catatan soe hok gie mendaki gunung slamet 1967

“Mengemis”

Ketika saya menyatakan akan memimpin pendakian Gunung Slamet bersama para mahasiswa, seorang kawan menyatakan bahwa saya gila. “Gunung itu tingginya 3.422 m, gunung nomor dua di Pulau Jawa. Dan menurut Junghun, ia mendaki gunung itu dengan merangkak. Di puncaknya pada musim-musim tertentu suhu dapat turun sekitar nol derajat.” Apa yang dikatakan kawan ini memang benar. Seorang rekan organisasi pendaki gunung di Bandung, Wanadri, mengatakan bahwa ketika ia bersama rombongan RPKAD mendaki dari lereng selatan, ia memerlukan waktu sebelas jam tanpa istirahat. Lagi pula di Gunung Slamet tak ada air.

Akhirnya saya putuskan bahwa saya akan mendaki gunung ini. Enam kawan saya yang terkuat berjalan seminggu sebelum kami. Sepulangnya, mereka memberikan semua informasi yang diperlukan. Dan selama itu saya mempersiapkan hal-hal yang perlu di Jakarta. Dalam rencana, peserta yang akan turut berjumlah 15 orang. Biaya transpor termurah kira-kira Rp. 400,00 pp. Sehingga diperlukan kira-kira Rp. 6000,00 untuk biaya perjalanan. Dan kas Mapala (mahasiswa pencinta alam UI) hanya ada Rp. 1.200,00. Jadi saya harus mencari kira-kira Rp. 4.800,00

Seminggu sebelum berangkat kawan-kawan mulai “mengemis”. Hasilnya terkumpul Rp. 3.300,00 ditambah dengan obat-obatan (dari apotek Titi Murni) dan beberapa buah barang kalengan. Kekurangannya dipikul oleh kawan-kawan, yang rata-rata juga tidak punya uang. Tapi akhirnya, kami memutuskan untuk berangkat.

Setiap kali kami meminta sumbangan kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa; kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar dan di samping itu untuk menimbulkan daya tahan fisik yang tinggi. “Libur ini kami ingin mendaki gunung yang berat,” kami terangkan pada mereka.

Baca lebih lanjut

Iklan