Kontroversi Israel

HAMAS, Hentikan roketmu!!!

No Way!

”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”
(QS Al-Maidah ayat 82)

Banyak media memberitakan bahwa serangan Israel ke Gaza merupakan serangan balasan dikarenakan HAMAS terlebih dahulu melancarkan roket-roketnya ke Israel. Entahlah… kesurupan iblis apa media-media tersebut sampai memberitakan hal memalukan demikian. Secara halus ‘membenarkan’ tindakan Israel menyerang Gaza untuk membasmi pejuang HAMAS. Namun sayang amat di sayang, fakta korban warga sipil yang sampai tulisan ini saya ketik mencapai 850 orang yang telah syahid tidak digembar-gemborkan oleh media.

Logika amat sederhana pun bisa kita terima oleh akal yang paling bodoh untuk membedakan mana yang penjajah, mana yang pejuang. Rekan saya pernah mengatakan kepada adik-adik di SMP-nya untuk mensimulasikan penjajahan Israel terhadap Palestina. Bayangkan saja anda memiliki rumah sederhana, keluarga anda hidup tentram dan damai di dalamnya. Tetapi suatu ketika, ada tamu berkunjung ke rumah anda kemudian tamu tersebut mengajak keluarganya untuk ikut berkunjung ke rumah anda. Kemudian tiba-tiba saja tamu ini mengusir anda dari rumah anda sendiri. Tentunya secara spontan anda akan marah dan berusaha mempertahankan rumah anda walau harus mengorbankan nyawa. Tetapi si tamu dan keluarganya ini tetap saja bertahan di rumah anda dengan mengobrak-abrik rumah anda, merusak barang perabotan anda dan menempati kamar anda. Tidak sampai disitu, anda dan keluarga anda juga di sandera di sebuah kamar yang gelap tanpa ada listrik dan air dan anda tidak dibolehkan keluar rumah untuk sekedar membeli bahan makanan atau obat-obatan. Tentunya logika wajar ketika anda berusaha melawan dengan berbagai macam cara agar si tamu dan keluarganya ini bisa keluar dari rumah anda dan anda bisa hidup tentram dan damai lagi bersama keluarga anda, bukan?

Kondisi itulah yang tejadi di Palestina. Sebuah penjajahan terhadap suatu negara berdaulat penuh di abad 21 ini yang menggunakan cara-cara kolot dan barbar. Pencaplokan negara oleh suatu etnis dengan mengatasnamakan ‘misi tuhan’ yang kemudian mengaku-ngaku menjadi negara berdaulat dengan gerakan zionisme-nya dan dunia serasa dibuat bungkam.

Zionisme sendiri berasal dari kata Ibrani “zion” yang artinya karang. Maksudnya merujuk kepada batu bangunan Haykal Sulaiman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama ‘Zion’, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds (Jerusalem). Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri.

Zionisme kini tidak lagi hanya memiliki makna keagamaan, tetapi kemudian beralih kepada makna politik, yaitu suatu gerakan pulangnya ‘diaspora’ (terbuangnya) kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali bersatu sebagai sebuah bangsa dengan Palestina sebagai tanah-air bangsa Yahudi dengan Jerusalem sebagai ibukota negaranya. Istilah Zonisme dalam makna politik itu dicetuskan oleh Nathan Bernbaum, dan ‘Zionisme Internasional’ yang pertama berdiri di New York pada tanggal 1 Mei 1776, dua bulan sebelum kemerdekaan Amerika-Serikat dideklarasikan di Philadelpia. (ZA Maulani –Zionisme: Gerakan Menaklukan Dunia)

Jelas terbeberkan sudah fakta siapa yang benar dan siapa yang penjajah. Adalah wajar ketika HAMAS melancarkan serangan roketnya ke Israel karena Indonesia pun ketika zaman perjuangan dahulu terus melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Wajar ketika Brigade Izzudin Al Qasam (sayap militer HAMAS) melakukan perlawanan bersenjata terhadap serdadu-serdadu Zionis karena dulu Jenderal Sudirman, Teuku Umar, Bung Tomo dan sejumlah pejuang kita lainnya pun melakukan gerilya ke markas-markas Penjajah.

Menjadi aib yang memalukan ketika ada diantara umat muslim yang masih menyarankan agar HAMAS menghentikan roketnya ke Israel agar Israel menghentikan agresi militernya ke Gaza. Karena, itu sama saja menyarankan agar menghentikan jihad fi sabilillah. Sama saja menyarankan agar Jenderal Sudirman, Teuku Umar, Bung Tomo dan sejumlah pejuang lainnya ketika zaman perjuangan dahulu menghentikan gerilya-gerilya mereka untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Karena dihentikannya roket HAMAS atau tidak pun sama saja bagi Israel. Mereka akan tetap memblokade Gaza, menghentikan pasokan listrik, air, obat-obatan, bahan pangan, membunuh warga sipil dan tetap akan menjajah bumi Palestina. Jadi, silahkan pilih! Melakukan perlawanan jihad fi sabilillah dengan balasan syurga atau berdiam diri dan terus menerus dijajah dan ‘menikmati’ kedzaliman Israel. Isy Kariman Au Mut Syahidan Hidup Mulia atau Mati Syahid.

Mengutip pernyataan Fauzi Barhum juru bicara Hamas. “Kami katakan kepada siapa saja yang tidak menghendaki pembebasan Gaza atau pihak-pihak yang tidak menginginkan Hamas menang, jika kalian tidak bisa berbuat sesuatu untuk rakyat Palestina, maka diamlah! Karena kami mampu melindungi rakyat kami dan membela tanah air kami!!” So, Suruh HAMAS hentikan roket? No Way!!!

HAMAS simbol-simbol perjuangan
Perlawanan umat Islam
dari penjajahan tirani Yahudi jahannam

HAMAS simbol-simbol perlawanan
Yang berlandaskan Iman
Berazaskan Al Quran dan Sunnah di jalan-Nya

Pengorbanan Syaikh ahmad Yassin
Jadi suatu catatan penting
Arti sebuah perjuangan
yang menegakkan kebenaran

Wahai negeri Palestina
Lahirnya para Syuhada
Yang mengharumkan bumi Islam
Bersemi di hati mewangi sampai akhir dunia
Nasheed by: I.R.A
HAMAS

“Kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi. Mereka akan diperangi kaum Muslimin, sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Maka berkatalah batu dan pohon tersebut: Wahai orang Islam, wahai hamba Alloh, ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon itu adalah pohon Yahudi”.
(HR.Bukhori-Muslim)

Terkait dengan presiden baru Amerika berikut isi pidato Barack Obama :

My fellow citizens:

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and co-operation he has shown throughout this transition. Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms.

At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because we, the people, have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.

So it has been. So it must be with this generation of Americans.

Serious challenges

That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the

ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.

These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land – a nagging fear that America’s decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.

“We have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord”

Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America – they will be met.

On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.

On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.

Nation of ‘risk-takers’

We remain a young nation, but in the words of scripture, the time has come to set aside childish things. The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.

In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted – for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things – some celebrated but more often men and women obscure in their labour, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.

For us, they packed up their few worldly possessions and travelled across oceans in search of a new life.

For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and ploughed the hard earth.

For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sahn.

‘Remaking America’

Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.

“The state of the economy calls for action, bold and swift”

This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions – that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.

For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act – not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technology’s wonders to raise health care’s quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. All this we will do.

Restoring trust

Now, there are some who question the scale of our ambitions – who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short. For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.

What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them – that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply.

We reject as false the choice between our safety and our ideals”

The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works – whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the public’s dollars will be held to account – to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day – because only then can we restore the vital trust between a people and their government.

Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control – that a nation cannot prosper long when it favours only the prosperous. The success of our economy has always depended not just on the size of our gross domestic product, but on the reach of our prosperity; on the ability to extend opportunity to every willing heart – not out of charity, but because it is the surest route to our common good.

‘Ready to lead’

As for our common defence, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our founding fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those ideals still light the world, and we will not give them up for expedience’s sake. And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman, and child who seeks a future of peace and dignity, and we are ready to lead once more.

 We will not apologise for our way of life, nor will we waver in its defence”

Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with the sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint. We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort – even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people, and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the spectre of a warming planet. We will not apologise for our way of life, nor will we waver in its defence, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.

‘Era of peace’

For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus – and non-believers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.

To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society’s ills on the West – know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.

To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to suffering outside our borders; nor can we consume the world’s resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.

‘Duties’

As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honour them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service; a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment – a moment that will define a generation – it is precisely this spirit that must inhabit us all.

“What is required of us now is a new era of responsibility”

For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighter’s courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parent’s willingness to nurture a child, that finally decides our fate.

Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends – honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism – these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths.

What is required of us now is a new era of responsibility – a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.

‘Gift of freedom’

This is the price and the promise of citizenship.

This is the source of our confidence – the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.

This is the meaning of our liberty and our creed – why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than 60 years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.

So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have travelled. In the year of America’s birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:

“Let it be told to the future world… that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive… that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet [it].”

America. In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our children’s children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God’s grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.

Thank you. God bless you. And God bless the United States of America.

Text Indonesianya :

Saya sesama warga negara:

Aku berdiri disini humbled oleh tugas di depan kita, berterima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan, sadar bahwa korban ditanggung oleh nenek moyang kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya pada bangsa kita, serta kemurahan hati dan kerjasama yang telah menunjukkan seluruh transisi ini. Empat puluh empat orang Amerika telah mengambil sumpah presiden. Kata-kata yang telah diucapkan selama meningkatnya arus kesejahteraan dan masih air perdamaian. Namun, sering sekali sumpah diambil tengah mengumpulkan awan dan badai hebat.

Pada saat ini, Amerika telah dibawa bukan hanya karena ketrampilan atau visi mereka yang memegang jabatan tinggi, tetapi karena kita, orang-orang, yang tetap setia kepada cita-cita cita kami, dan setia pada dokumen pendiri negara kita.

Jadi sudah. Jadi, ini harus dengan generasi Amerika.

Serius tantangan

Bahwa kita sedang berada di tengah krisis sekarang dipahami. bangsa kita adalah perang, melawan jaringan jauh kekerasan dan kebencian. Ekonomi kita sangat lemah, akibat dari keserakahan dan tidak bertanggung jawab pada bagian dari beberapa orang, tetapi juga kegagalan kolektif kita untuk membuat pilihan sulit dan mempersiapkan bangsa untuk usia yang baru. Rumah telah hilang; Tawaran kandang; bisnis hancur. perawatan kesehatan kita terlalu mahal, sekolah kami tidak terlalu banyak, dan setiap hari membawa bukti lebih lanjut bahwa

cara kita menggunakan energi memperkuat musuh kita dan mengancam planet kita.

Ini adalah indikator krisis, yang didasarkan pada data dan statistik. Kurang terukur tetapi tidak kurang pentingnya adalah melemahnya keyakinan di seluruh negeri – gerutuan takut bahwa penurunan Amerika tidak bisa dihindari, dan bahwa generasi berikutnya harus mengurangi harapannya.

“Kami telah memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan tujuan melalui konflik dan perpecahan”

Hari ini saya katakan kepada Anda bahwa tantangan yang kita hadapi adalah nyata. Mereka serius dan mereka banyak. Mereka tidak akan dengan mudah terpenuhi atau dalam kurun waktu singkat. Tapi tahu ini, Amerika – mereka akan terpenuhi.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita telah memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan tujuan melalui konflik dan perpecahan.

Pada hari ini, kami datang untuk menyatakan mengakhiri keluhan kecil dan janji-janji palsu, tuduhan dan dogma usang, yang sudah terlalu lama mencekik politik kita.

Bangsa ‘risiko-takers’

Kami masih muda, tetapi dalam kata-kata Kitab Suci, saatnya telah tiba untuk menyisihkan hal-hal kekanak-kanakan. Waktunya telah datang untuk bertahan semangat kita; untuk memilih sejarah yang lebih baik untuk meneruskan hadiah berharga, bahwa ide mulia, disampaikan dari generasi ke generasi: Allah-janji yang diberikan bahwa semua adalah sama, semua bebas, dan semua layak memperoleh kesempatan untuk mengejar mereka ukuran penuh kebahagiaan.

Dalam menandaskan kebesaran bangsa kita, kita memahami bahwa kebesaran tidak pernah diberikan. Ini harus diperoleh. Perjalanan kita belum pernah salah satu pendek-luka atau sejenisnya. Belum path untuk-samar hati – untuk mereka yang lebih memilih bekerja selama liburan, atau hanya mencari kesenangan dari kekayaan dan ketenaran. Sebaliknya, telah menjadi pengambil risiko, maka orang yang lalim, maka keputusan dari hal – beberapa dirayakan tetapi lebih sering laki-laki dan perempuan tak dikenal dalam pekerjaan mereka, yang telah membawa kita di atas jalan yang panjang, kasar menuju kemakmuran dan kebebasan.

Bagi kami, mereka dikemas sedikit harta duniawi dan bepergian di lautan dalam mencari kehidupan baru.

Bagi kami, mereka bekerja keras dalam minim dan menetap di Barat, menahankan pukulan cambuk dan mencangkul tanah yang keras.

Bagi kami, mereka berjuang dan mati, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg, Normandy dan Khe San.

‘Amerika Membentuk kembali’

Kali ini lagi dan laki-laki dan perempuan berjuang dan berkorban dan bekerja sampai tangan mereka adalah mentah, agar kita bisa hidup lebih baik. Mereka melihat Amerika lebih besar dari jumlah ambisi pribadi kita, lebih besar daripada perbedaan kelahiran atau kekayaan atau fraksi.

“Keadaan ekonomi panggilan untuk tindakan, berani dan cepat”

Ini adalah perjalanan kita teruskan hari ini. Kami tetap bangsa yang paling makmur, kuat di bumi. pekerja kita tidak kurang produktif dibandingkan saat krisis ini mulai. Pikiran kita tidak kurang kreatif, barang dan jasa yang diperlukan tidak kurang daripada minggu lalu atau bulan lalu atau tahun lalu. Kapasitas kita tetap tak berkurang. Tapi waktu kita untuk berdiam diri, melindungi kepentingan sempit dan meletakkan keputusan yang tidak menyenangkan – waktu itu telah berlalu. Mulai hari ini, kita harus bangkit sendiri, debu diri, dan mulai lagi bekerja memperbaharui Amerika.

Untuk mana-mana kita melihat, ada pekerjaan yang harus dilakukan. Keadaan ekonomi panggilan untuk tindakan, berani dan cepat, dan kita akan bertindak – bukan hanya untuk menciptakan lapangan kerja baru, tetapi untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan. Kami akan membangun jalan dan jembatan, jaringan listrik dan jaringan digital yang menyuburkan perdagangan dan mengikat kita bersama. Kami akan mengembalikan ilmu ke tempat yang sebenarnya, dan keajaiban menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan biaya yang lebih rendah. Kami akan memanfaatkan matahari dan angin dan tanah untuk bahan bakar mobil kami dan menjalankan pabrik-pabrik kita. Dan kita akan mengubah sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dan universitas untuk memenuhi tuntutan era baru. Semua ini bisa kita lakukan. Semua ini akan kita lakukan.

Memulihkan kepercayaan

Sekarang, ada beberapa pertanyaan yang skala ambisi kita – yang menunjukkan bahwa sistem kami tidak bisa mentolerir terlalu banyak rencana besar. kenangan mereka yang singkat. Sebab mereka telah melupakan apa negara ini telah dilakukan, apa yang orang bebas dan perempuan dapat mencapai apabila imajinasi bergabung demi tujuan bersama, dan perlunya keberanian.

Apa yang sinis gagal pahami adalah bahwa tanah yang telah berubah di bawah mereka – bahwa argumen politik basi yang telah dikonsumsi begitu lama kita untuk tidak lagi berlaku.

“Kami menolak pilihan sebagai palsu antara keselamatan dan cita-cita kita”

Pertanyaan kita hari ini adalah menanyakan apakah pemerintah tidak terlalu besar atau terlalu kecil, tapi apakah karya – baik membantu keluarga mencari pekerjaan dengan upah yang layak, kesehatan yang terjangkau, dan pensiun yang bermartabat. Apabila jawabannya adalah ya, kita berniat untuk maju. Apabila jawabannya tidak, program akan berakhir. Dan mereka yang mengelola uang publik akan diadakan untuk account – untuk menghabiskan bijak, mengubah kebiasaan buruk, dan melakukan bisnis kita dalam terang hari – karena hanya dengan demikian kita bisa memulihkan kepercayaan penting antara rakyat dan pemerintah mereka.

Juga adalah pertanyaan apakah kita pasar adalah kekuatan baik atau buruk. Kuasanya untuk menghasilkan kekayaan dan memperluas kebebasan yang tiada bandingan, tapi krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, pasar dapat terlepas dari kontrol – suatu bangsa tidak bisa berjaya ketika nikmat hanya makmur. Keberhasilan perekonomian kita tidak hanya tergantung pada ukuran produk domestik bruto kita, tetapi pada jangkauan kesejahteraan kita, pada kemampuan untuk memperluas kesempatan untuk setiap rela hati – bukan dari kasih, tetapi karena itu adalah jalan terbaik untuk kebaikan bersama kita.

‘Siap untuk memimpin’

Adapun pertahanan kita bersama, kita menolak sebagai palsu pilihan antara keselamatan dan cita-cita kita. pendiri kami, dihadapkan pada bahaya yang tak bisa membayangkan, menyusun sebuah piagam untuk menjamin supremasi hukum dan hak-hak manusia, sebuah piagam yang diperkuat oleh darah generasi. Cita-cita masih terang dunia, dan kami tidak akan memberikan mereka demi kemanfaatan’s. Dan seterusnya ke seluruh masyarakat dan pemerintahan yang menonton hari ini, mulai dari kota termegah sampai ke desa kecil di mana ayah saya dilahirkan tahu bahwa Amerika adalah teman dari setiap bangsa dan setiap pria, wanita, dan anak yang mencari masa depan yang damai dan martabat, dan kami siap untuk memimpin lagi.

“Kami tidak akan minta maaf atas cara hidup, tidak akan goyah dalam pertahanan”

Ingatlah bahwa generasi sebelumnya menundukkan fasisme dan komunisme bukan hanya dengan rudal dan tank, tetapi dengan aliansi yang kokoh dan keyakinan besar. Mereka memahami bahwa kekuatan kita sendiri tidak bisa melindungi kita, maupun tidak memberikan kita untuk berbuat sekehendak hati kita. Sebaliknya, mereka tahu bahwa kekuatan kita tumbuh melalui penggunaan yang bijaksana, keamanan kita berasal dari kebenaran tujuan kita, kekuatan contoh kita, kualitas tempering kerendahan hati dan pengendalian diri. Kita adalah penjaga warisan ini. Dipandu oleh prinsip-prinsip ini sekali lagi, kita bisa menghadapi ancaman baru yang menuntut upaya lebih besar – kerjasama yang lebih besar dan pemahaman antar bangsa. Kami akan mulai meninggalkan Irak bertanggung jawab kepada rakyatnya, dan menempa perdamaian dengan susah payah di Afghanistan. Dengan teman lama dan bekas saingan, kami akan bekerja tanpa lelah untuk mengurangi ancaman nuklir, dan memutar kembali momok pemanasan bumi. Kami tidak akan minta maaf atas cara hidup, tidak akan goyah dalam pertahanan, dan bagi mereka yang ingin maju tujuan mereka dengan terror dan memotong innocents, kami katakan kepada Anda sekarang bahwa semangat kita lebih kuat dan tidak dapat dibatalkan; Anda bisa tidak unggul dari kami, dan kami akan mengalahkan Anda.

‘Era perdamaian’

Sebab kita tahu bahwa warisan beraneka warna adalah suatu kekuatan, bukan kelemahan. Kami adalah bangsa Muslim dan Kristen, Yahudi dan Hindu – dan non-Muslim. Kita telah dibentuk oleh setiap bahasa dan kebudayaan, yang berasal dari segala pelosok bumi ini, dan karena kita telah merasakan pahitnya perang saudara dan segregasi, dan keluar dari masa kegelapan lebih kuat dan lebih bersatu, kita tidak bisa membantu tetapi percaya bahwa yang lama rasa kebencian suatu hari nanti akan hilang, bahwa garis-garis suku akan segera menghilang; bahwa dunia semakin kecil, kemanusiaan kita akan menampakkan dirinya, dan bahwa Amerika harus memainkan perannya dalam mengantarkan era baru perdamaian.

Bagi dunia Muslim, kita mencari cara baru ke depan, berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati. Untuk para pemimpin dunia yang berusaha untuk menanamkan konflik, atau menyalahkan penyakit masyarakat mereka di Barat – orang tahu bahwa Anda akan menilai Anda pada apa yang Anda bangun, bukan apa yang Anda musnahkan. Untuk mereka yang berpegang teguh kepada kuasa melalui korupsi dan kebohongan dan silencing dari perbedaan pendapat, tahu bahwa Anda sedang berada di salah sisi sejarah, tetapi kita akan memperpanjang tangan jika Anda lagi mengepalkan tinju Anda.

Untuk rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama Anda untuk membuat Anda peternakan berkembang dan biarkan air bersih mengalir, untuk memberi makan tubuh kelaparan dan pakan lapar pikiran. Dan kepada negara-negara seperti kita yang menikmati relatif banyak, kita katakan, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada penderitaan luar perbatasan kita dan tidak dapat kita mengkonsumsi sumber daya dunia tanpa mempedulikan dampaknya. Karena dunia telah berubah, dan kita harus berubah dengannya.

‘Tugas’

Seperti kita mempertimbangkan jalan yang terbentang di depan kita, kita mengingat dengan rasa terima kasih mereka yang berani Amerika, di padang pasir ini, patroli, jauh-jauh gunung dan. Mereka memiliki sesuatu untuk memberitahu kami, hanya sebagai pahlawan yang gugur berbaring di Arlington berbisik selama berabad-abad. Kami menghormati mereka bukan hanya karena mereka adalah menjaga kebebasan kita, tetapi karena mereka mewujudkan semangat pelayanan, kesediaan untuk menemukan arti yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Namun, saat ini – saat yang akan menentukan generasi – semangat inilah yang harus ada pada kita semua.

“Apa yang diperlukan dari kita sekarang ini adalah era baru tanggung jawab”

Untuk sebanyak pemerintah dapat dilakukan dan harus dilakukan, ia akhirnya iman dan tekad rakyat Amerika yang mengandalkan bangsa ini. Adalah baik untuk mengambil dalam asing ketika levees istirahat, yang selflessness para pekerja yang bukan dipotong dari jam mereka melihat teman kehilangan pekerjaan mereka yang melihat kita melalui kami gelap jam. Ini adalah keberanian para pemadam kebakaran untuk badai tangga yang penuh dengan asap, tetapi juga kemauan orang tua untuk mendidik anak, yang akhirnya memutuskan nasib kami.

Kami mungkin akan tantangan baru. Instrumen yang kita bertemu dengan mereka mungkin baru. Tetapi mereka nilai atas keberhasilan kita bergantung – kerja keras dan kejujuran, keberanian dan keadilan, toleransi dan rasa ingin tahu, kesetiaan dan patriotisme – semua itu sudah lama. Semua itu memang benar. Mereka telah menjadi tenang karena kemajuan kami sepanjang sejarah. Apa yang diminta kemudian adalah kembali kepada kebenaran.

Apa yang diperlukan dari kita sekarang ini adalah era yang baru – sebuah pengakuan, pada setiap bagian dari Amerika, bahwa kita mempunyai kewajiban untuk diri kita sendiri, bangsa kita, dan dunia, tugas yang kita tidak enggan menerima tetapi senang hati merampas, perusahaan dalam pengetahuan bahwa tidak ada yang lebih memuaskan bagi jiwa, sehingga mendefinisikan karakter kita, selain memberikan kita semua untuk tugas yang sulit.

‘Hadiah kebebasan’

Ini adalah harga dan janji kewarganegaraan.

Ini adalah sumber keyakinan kita – pengetahuan bahwa Allah meminta kita untuk memperbaiki keadaan yang tidak pasti.

Ini adalah arti kebebasan dan kepercayaan kita – mengapa laki-laki dan perempuan dan anak-anak dari tiap ras dan keyakinan setiap dapat bergabung dalam perayaan ini di mal megah, dan mengapa seorang lelaki yang ayahnya lebih 60 tahun lalu mungkin tidak dilayani di restoran, sekarang bisa berdiri di depan anda untuk mengambil sumpah paling suci.

Jadi mari kita tandai hari ini dengan mengingat, siapa kita dan seberapa jauh kita tempuh. Pada tahun kelahiran Amerika, dalam terdingin bulan, sebuah band kecil patriot berkumpul di depan api unggun sekarat di tepi sungai yang dingin. Modal yang telah ditinggalkan. Musuh telah maju. Salju telah berlumuran darah. Pada saat ketika hasil dari revolusi kita sangat diragukan, bapak bangsa kita memerintahkan kata-kata ini dibacakan kepada semua orang:

“Beritahukanlah untuk masa depan dunia … bahwa di tengah musim dingin, bila tidak ada harapan dan kebajikan … bahwa kota dan negara, waspada akan bahaya bersama, akhirnya bersatu untuk memenuhi [it].”

Amerika. Dalam menghadapi bahaya bersama, dalam musim dingin ini kami kesulitan, mari kita ingat kata-kata abadi. Dengan harapan dan kebajikan, mari kita berani sekali lagi dengan arus dingin, dan bertahan dari badai yang akan tiba. Mari dikatakan oleh anak-anak anak-anak kita bahwa ketika kita telah diuji dan kita menolak untuk membiarkan perjalanan akhir ini, bahwa kita tidak kembali kami tidak goyah, dan dengan mata tetap pada cakrawala dan rahmat Allah atas kita, kita dibawa ke luar yang besar karunia kebebasan itu aman dan dikirimkan ke generasi.

Terima kasih. Tuhan memberkati Anda. Dan Tuhan memberkati Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s