Film Import Akan Masuk Lagi Ke Indonesia

Pemerintah akhirnya akan membuka kembali keran film Hollywood. Namun, masyarakat diminta bersabar karena pemerintah masih mencari solusi terbaik terkait pengaturan pajak film impor tersebut.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik menjelaskan, keberadaan film impor tetap diperlukan sebagai hiburan sekaligus referensi dan pembanding untuk film nasional. Sementara untuk kemajuan film nasional, pemerintah akan memberi kemudahan bagi produksi film nasional itu, antara lain melalui kebijakan perpajakan yang meringankan.

Untuk film impor, Menbudpar menjanjikan film Hollywood akan bisa kembali dinikmati para penonton di bioskop-bioskop Indonesia. “Film Hollywood akan masuk (Indonesia) lagi, itu sudah disepakati.Tapi saya minta sabar dulu,”ujar Jero Wacik saat memberi sambutan dalam peringatan 61 Tahun Perfilman Nasional, Rabu (30/3), di Jakarta. Seperti diketahui, film impor asal Amerika (Hollywood) dalam sebulan terakhir banyak yang tertunda masuk Indonesia akibat kisruh pajak film impor yang bergulir sejak pertengahan Februari lalu

Importir film dan Motion Pictures Association (MPA) yang berbasis di Amerika mempermasalahkan Surat Edaran 03/PJ/2011 tentang PPh atas Penghasilan Berupa Royalti dan Perlakuan PPN atau Perlakuan Film Impor, yang dinilai memberatkan importir. Sejak itu, film asal Amerika banyak yang absen untuk tayang di bioskop Indonesia.

“Pada Januari film impor asal Amerika yang masuk ada 20, lalu berkurang menjadi 5 film pada Februari, dan 2 film pada Maret,” sebut Direktur Perfilman Kemenbudpar Samsul Lussa. Samsul mengakui adanya dilema dalam persoalan film impor.Namun, sesuai Pasal 53 Undang-undang Perfilman,pemerintah memang berwenang mengatur atau mengurangi perpajakan. Masalahnya, kata dia, pembahasan tersebut tidak bisa serta-merta.

Menbudpar Jero Wacik mengungkapkan, pada prinsipnya pemerintah sudah menemukan pola perpajakan yang bisa memberikan perlindungan terhadap film dalam negeri, tapi tidak merugikan importir film. Pihaknya juga telah berdiskusi dengan para importir film Hollywood guna mencari jalan keluar terbaik dan adil bagi semua (win-win solution).Namun, soal besaran pajak film impor tidak bisa diputuskan segera karena melibatkan setidaknya tiga undang- undang (UU), yakni UU Bea Cukai, UU Perpajakan, dan UU Perfilman.

“Ketiga undang-undang itu yang akan dipakai untuk acuan agar film impor bisa masuk dengan baik dan dengan pajak yang pantas.Soal ini akan dibicarakan dengan Menteri Keuangan. Ada kemungkinan tidak naik,”katanya. Menbudpar menambahkan, jumlah produksi film lokal saat ini belum cukup untuk memenuhi 672 layar bioskop di Indonesia. Karenanya, dibutuhkan film impor.Jika film impor distop, kata dia, layar bioskop akan berkurang bahkan bukan mustahil beberapa bioskop akan gulung tikar dan karyawannya akan kehilangan pekerjaan.

“Pemerintah tidak mungkin mengeluarkan kebijakan yang tidak pro-job. Jadi, soal pajak ini memang harus ditata,”pungkasnya.

Beri Subsidi
Terkait film nasional,pemerintah berencana memberikan subsidi bagi pembuatan film lokal bertema kepahlawanan dan film anak yang mengandung semangat membangun karakter bangsa. Niat tersebut sudah termuat dalam RAPBN Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 2012 yang sudah mulai dirancang.

“Saya optimistis anggaran ini akan disetujui DPR.Jadi, para produser atau masyarakat silakan bersiap-siap merencanakan film apa yang akan dibuat? Nanti kita bantu,” ujarnya. Menbudpar menegaskan, film adalah karya budaya yang bisa dimanfaatkan untuk membangun karakter bangsa. Dia pun memuji film-film nasional semisal Laskar Pelangi dan Naga Bonar yang di dalamnya terkandung karakter positif dan nilai cinta Tanah Air.

“Saat ini salah satu film yang tengah kami dorong produksinya adalah film tentang kisah Bung Karno di tempat pembuangannya di Ende, Flores, pada 1934–1938. Situsnya di sana juga sedang kami pugar,” tuturnya. Untuk memacu semangat perfilman, lanjut Jero, pemerintah juga memacu penambahan gedung bioskop.Menurut dia, 672 layar yang tersedia saat ini belumlah cukup dan sebarannya pun tidak merata. Hal itu membuat banyak masyarakat di daerah yang belum bisa menonton film di bioskop.

Untuk itu, Jero menargetkan pada 2014 jumlah layar bertambah menjadi 1.000 layar. Aktris senior Christine Hakim mengapresiasi keberpihakan pemerintah terhadap film nasional.“Saya yakin pak menteri akan mendukung dan memajukan film nasional,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Menbudparjugamenyerahkan penghargaan berupa uang senilai Rp15 juta hingga Rp40 juta kepada sejumlah insan perfilman. Di antaranya Film Terbaik FFI 2010 (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta), film dengan penulisan skenario terbaik (Alangkah Lucunya Negeri Ini),pemeran utama pria terbaik (Reza Rahadian), serta pemeran utama wanita terbaik (Laura Basuki).

Saturday, 02 April 2011

sumber = seputar indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s